Liku-liku Kehidupan Jadi Anak Petani

Liku-liku kehidupan jadi anak petani. Judul itu yang akan saya bahas tentang pengalaman hidup saya yang penuh liku-liku sebagai anak petani murni. Kehidupan keluarga hanya bergantung pada pekerjaan kedua ortu saya sebagai petani sejati.

Meski penuh liku, tetap harus bangga. Meski nasib petani seolah tidak ada jaminan. Pagi sampai sore harus bergelut dengan panas, hujan, petir, dan berbagai cuaca yang berganti-ganti. Nanam sekarang, baru bisa menikmati hasilnya beberapa bulan kemudian. Itupun kalau berhasil panen. Kalau enggak? Panen ikhlas berarti. Apalagi ingin panen untuk dijadikan uang, sulitnya masya Allah. Lagi-lagi petani tercekik olah permainan harga yang fluktuatif tajam. Sewaktu-waktu harga bisa naik tinggi, dan bisa juga terjun bebas.
Iikuiku kehidupan jadi anak petani
(Ilustrasi kebanggan menjadi anak petani : suarapembaharu.com)


Meski kehidupan petani seperti itu, saya yang menjadi anak petani tetap bangga. Bahkan kondisi seperti itu yang malah menjadi lecutan saya untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Berbekal keikhlasan orang tua dalam bertani, rizki seolah tanpa henti. Ada saja jalan untuk bayar biaya sekolah. Rizki tersebut yang mampu memperlancar sekolah saya dari SD hingga SMA. 

Meski bertani, orang tua pantang memiskinkan diri.

Pernah waktu itu dikala SMP, saya ditawari beasiswa kurang mampu pleh sekolah. Saya sempat bingung waktu dipanggil wali kelas dan ditawari beasiswa kurang mampu. Lhawong saya bayar juga tidak pernah nunggak. Seragam juga layak pakai, buku juga lengkap. Kok mau dapat beasiswa kurang mampu.

Setelah saya tanyakan ke wali kelas, ternyata ada kelebihan kuota, dan akan diberikan untuk anak berprestasi. Karena saya langganan peringkat 1 dan 2, saya masuk ke daftar anak yang jadi prioritas kelebihan kuota. Yang namanya beasiswa jelas ada persyaratan untuk mengajukannya, salah satunya adalah meminta SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu). 


Seumur-umur saya belum pernah minta SKTM dari desa untuk keperluan mengurus beasiswa. Dengan pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk meminta waktu diskusi dengan ortu dulu sebelum memutuskan mau apa tidak menerima beasiswa tersebut.

Setelah diskusi dengan ortu, begini hasilnya ....

Karena ada embel-embel beasiswa kurang mampu, dan ada syarat meminta SKTM, dengan cepat ortu saya melarang saya menerima beasiswa tersebut. Intinya, orang tua tidak mau memiskinkan diri.

Respon ortu saat saya SMA dapat beasiswa prestasi.

Setelah SMP, saya melanjutkan ke SMA. Kebetulan terpilih masuk kelas unggulan. Di kelas unggulan tentu ada yang spesial. Bukan temen perempuan yang speaial lhoo. Heehee... Tapi kebijakan di kelas unggulan yang spesial. Sekelas hanya diisi maksimal 25 anak, padahal dikelas reguler bisa sampek diatas 30 anak. Kelasnya pun disendirikan tidak berjejer dengan kelas lainnya. Dan ada lagi yang mantab kebijakannya. Kelas unggulan berhak dapat beasiswa prestasi.

Termasuk saya juga di data. Tapi minta pertimbangan ortu dulu tentang beasiswa ini. Kuatir tidak boleh seperti beasiawa waktu SMP. Ternyata boleh sama ortu. Yang penting tidak ada syarat SKTM.

Liku-liku kehidupan jadi anak petani. Kuliah di luar kota, biaya dari ortu tidak cukup.

Setelah SMA saya kuliah di Universitas Negeri, tepatnya di Malang. Setahun berjalan menginjak tahun kedua, keuangan keluarga jadi ngos-ngosan. Kebutuhan kuliah saya menyerap banyak biaya. Tempat tinggal, kuliah, makan, minum, tugas kuliah, perkakas kuliah semua berbayar. Bayarnya pun gak sedikit bagi saya (jangan samakan dengan yang lain). 

Menginjak tahun kedua kuliah, terpaksa orang tua menjual sepetak tanah untuk biaya kuliah saya. Tidak hanya itu, rumah dan rojo koyo alias sapi juga kejual semua. Ditambah waktu itu kakak saya butuh biaya berobat di rumah sakit. Masya Allah. Seakan tak ada daya bertahan kuliah di saat seperti ini. Ingin berhenti kuliah saja.

Namun apa nasehat ortu?

Jangan, jangan sampai putus kuliah! Pendidikan minimal S1 adalah cita-cita ortu saya. Saya tidak berani ambil keputusan keluar kuliah. 

Saya memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Dan Alhamdulillah sebagian biaya kehidupan bisa saya cover dari hasil bekerja hingga lulus. Tentu dengan pekerjaan serabutan. Mulai penjaga warung makan, tukang parkir, tukang ojek, guru les, dll. Yang penting halal.

Sedikit cuplikan liku-liku kehidupan saya sebagai anak petani sejati. Semoga bisa menjadi inspirasi. Berbangga lah jadi anak petani. Sebisa mungkin, jadilah penerus generasi tani. Tani adalah sumber kehidupan semua manusia.
Share

2 Responses to "Liku-liku Kehidupan Jadi Anak Petani"

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel