Pergi Ke Nikahan Teman, Begini Rasanya

Pergi ke nikahan teman merupakan suatu kebahagiaan, apalagi teman tersebut adalah teman dekat dan teman perjuangan kuliah. Kami pernah berjuang bersama melawan rasa malas mengerjakan skripsi hingga kelulusan tertunda bertahun-tahun. 


Kami adalah empat sekawan dari universitas dan jurusan yang sama, meskipun program studi kami beda-beda. Sebut saja tiga teman saya adalah Paijo, Pailik, dan Paicip. Saya sendiri Paito. Di antara kami berempat yang melepas masa lajang duluan adalah saya. Gimana gak segera melepas rasa lajang, lhawong sudah ingin menikah, karena pingin nikah berarti sudah kena hukum nikah wajib. Saya segerakan saja menikah.

Mantan pacar saya (sekarang istri saya) dikenalkan oleh teman saya yaitu Paicip. Berkat dia, sekarang saya sudah mau punya dua keturunan. Makasih ya sobat, Paicip. Heehehee....


Saya menikah dua tahun lalu. Seingat saya tanggal 9 mei 2015. Nikahan saya diantar oleh ketiga teman saya. Mereka jadi pengiring yang setia menunggu saya hingga selesai acara nikahannya. 

Setelah menikah tentu aktivitas dolan dolen sama ketiga teman semakin berkurang, bahkan setahun setelah menikah, saya putus komunikasi dengan Paicip. Kalau dengan Pailik dan Paijo si masih pernah komunikasi bahkan bertemu langsung. Karena mereka kerjanya dekat dengan rumah saya. Lha Paicip ini yang lumayan jauh. Perjalanan sepeda motor sekitar 1,5 jam kalau lancar, kalau macet tau sendiri kan.

Setelah dua tahun terlewati masa sibuk saya dengan keluarga kecil saya, ternyata saya ada message di fb dan Wa tentang rencana nikahan Paicip. Seminggu sebelum nikah saya dapat info dari Pailik lewat medsos, maklum saya ganti nomer baru tanpa beritahu mereka. Maaafff, kalian jadi cari-cari saya.

Saya, Paijo dan Pailik berencana berangkat bareng. Akad nikah dihelar tanggal 13 Maret 2018, Walimah tanggal 14 nya. Kami bertiga datang tanggal 14 nya. 

Sampai rumah Paicip, hati saya merasa senang dan bahagia, sayangnya saya gak bisa lebay kalau bahagia sampai nangis.wkkkwkkkk

Gimana gak bahagia coba. Lihat dia setelah dua tahun jarang ketemu, sekarang dia sudah dapat kebahagiaan yang tidak ternilai. Di lengannya sudah ada tangan bidadari surga dengan erat menggandeng. Cieelaaahhh.. Kayak lagunya uje aja. 

Saya yakin seyakin-yakinnya, Paicip bahagia atas dipertemukannya tulang rusuknya. Karena sewaktu menikah dulu saya juga sangat senang dan bahagia ketika datang masa-masa setelah akad dan masuk acara resepsi.

Dalam hati saya selalu mendoakan dia supaya bahagia, dikaruniai anak yang shalih shalihah. Rizki yang barokah, dll. 

Eemmmm... Lewat tulisan ungkapan bahagia ini, saya ingin berpesan pada kalian tentang pengalaman saya menikah. Awal menikah akan di uji dengan banyak hal. Mulai keuangan, kesabaran dengan sikap pasangan, atau bentuk cobaan lain. Kalian harus bisa saling ngerti. Di saat salah satu jadi api, satunya harus berperan jadi air. Kondisi mencocokkan hati tidak tahu akan berakhir kapan, mungkin tidak ada batasan akhirnya kecuali kematian.

Tapi saya yakin kalian bisa jadi pasangan dunia akhirat. Aamiin.

Lha buat dua temanku yang belum melepas masa lajang, Pailik dan Paijo. Insya Allah kalian akan segera menyusul. Aamiin

Buat pembaca catatan saya ini. Semoga bisa membentuk keluarga yang samara juga. Aamiin
Share

0 Response to "Pergi Ke Nikahan Teman, Begini Rasanya"

Post a Comment

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel