Shalat Lima Waktu, Jangan Ditawar!

Shalat lima waktu jangan ditawar
Ilustrasi shalat: wahdah.or.id
Tiap tahun sekali umat islam merayakan peringatan isra mi'raj. Termasuk di tahun 2018 Masehi ini jatuh pada hari sabtu tanggal 14 April. Penjelasan detail tentang isra' mi'raj bisa baca buku lagi. Kalau browsing, silahkan tapi hati-hati. Cari sumber terpercaya. Yang akan saya sampaikan dalam tulisan ini adalah hasil dari peristiwa isra mi'raj Nabi Muhammad SAW, yakni shalat lima waktu yang merupakan hasil tawar-menawar Nabi Muhammad SAW dengan Allah SWT. Semula diwajibkan 50 waktu sehari semalam, dan berakhir dengan ketetapan 5 waktu. Hanya sepersepuluh ya. Tapi jangan berkata "hanya". Lima waktu saja masih bolong-bolong. Kalaupun lengkap lima waktu juga masih gak on time. Kalau sudah on time juga masih gak fokus. Aahhh banyak pokoknya kekurangan kita. Yang terpenting adalah selalu meningkatkan kualitas shalat. Yang lebih penting lagi, shalat lima waktu jangan ditawar!

Saya memiliki gambaran penawaran shalat yang pernah saya jumpai di lingkungan sekolah. Waktu itu iseng-iseng saja menanyakan ke siswa tentang siapa yang hari kemarin sudah shalat 5 waktu. Karena saya bukan guru agama, jadi mereka mengaku shalat atau tidak tanpa ada rasa takut. Kalau guru agama yang tanya, mungkin mereka takut nilai akan berkurang.

Dari sekitar 30 siswa, ternyata yang shalat 5 waktu hanya 2 anak. Dengan pikiran yang agak kaget, saya bertanya lanjutan tentang berapa waktu rata-rata shalat wajib siswa. Kemudian saya menunjuk satu per satu anak, dan mereka menjawab beraneka ragam. Mulai tidak shalat sampai shalat selalu lengkap 5 waktu. Jumlah yang tidak shalat hanya satu anak dan yang lengkap 5 waktu 2 anak dalam sekelas. Yang lain berarti ada yang hanya 1, 2, 3, dan 4 waktu. Yang shalat 5 waktu rutin baru sepersepuluh. Jumlah.yang minim. Dari jawaban satu kelas tersebut, saya berpikir tentang sifat manusia (termasuk saya) suka nawar, termasuk nawar shalat. Padahal, manusia biasa tidak ada hak menawar shalat.

Padahal shalat ini menjadi bagian yang sangat-sangat penting dalam menata kehidupan manusia. Bahkan dalam kondisi apapun, shalat tidak boleh ditinggalkan (kecuali udzur). Yang gak mampu berdiri bisa duduk. Duduk gak mampu, bisa berbaring. Berbaring gak mampu, pakai isyarat. Isyarat masih gak mampu, dishalati.

Kalau saya diijinkan menggunakan pikiran dangkal saya untuk melakukan generalisasi. Berdasarkan kondisi satu kelas tersebut, menjadi satu sekolah, dan mencakup yang lebih besar lagi yaitu se Indonesia, maka dari sekian juta penduduk muslim, hanya ada sepersepuluh yang shalat lengkap lima waktu. Lagi-lagi ini hanya logika saya semata yang masih terbatas dalam berpikir. Karena tidak bisa mendata secara keseluruhan jadi pakai sampel. 

Dengan kondisi kemauan shalat yang masih rendah, mungkin menjadi penyebab sulitnya kemajuan. Bahkan tertinggal jauh dengan negara lain yang mayoritas non muslim. Kalau dengar-dengar waktu ceramah, ketika muslim mengutamakan shalat, maka semua hal duniawi akan di utamakan oleh Allah. Jika semua muslim Indonesia rajin, benar, dan baik shalatnya, maka urusan kemajuan akan dipermudah.

Wah pembicaraan saya seperti ustadz saja. Kok ngomongin shalat segitu dalamnya. Heehee...

Daripada ide ini gak sempat saya omongkan, mending saya tulis. Intinya, saya ingin mengajak semua pembaca yang muslim, ayoo shalat yang rajin, benar, dan baik. Terutama masalah hati yang sulit khusyuk. Biar bisa mengikuti jejak sang Rasul.
Share

1 Response to "Shalat Lima Waktu, Jangan Ditawar!"

  1. Hihihi.... Seperti saya juga masih tawar menawar dalam melaksanakan sholat lima waktu.
    Ups!!!

    ReplyDelete

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel