Selamat Tinggal UN yang menyeramkan

Mulai bulan Januari, sekolah/madrasah selalu sibuk mempersiapkan ujian. Mulai dari tryout, latihan soal, ujian praktik, ujian sekolah, dan ujian nasional (UN). UN sekarang tidak seseram beberapa tahun sebelumnya, bahkan ada yang ketakutan hingga gantung diri. Mati donk! Yapz, alhasil ada nyawa melayang gara-gara takut dengan ujian nasional.  Sekarang banyak pihak yang bisa berucap selamat tinggal UN yang menyeramkan.
Selamat tinggal UN yang menyeramkan
Ilustrasi UN: poskotanews.com
Seberapa seram si memangnya? Yang tahu hanya mereka yang takut. Yang jelas waktu itu ujian nasional yang hanya empat hari bisa menentukan kelulusan. Gak adil rasanya, sekolah SMP/MTs, SMA/SMK/MA 3 tahun, kelulusan ditentukan 4 hari. Sekolah belajar banyak ilmu, lebih dari 10 mata pelajaran, yang menentukan lulus hanya empat mapel bagi SMP/MTs, yaitu matematika, bahasa inggris, IPA, dan bahasa Indonesia.

Sekarang penentu kelulusan diserahkan ke sekolah masing-masing. Tentu UN bisa masuk ke porsi penentu kelulusan, tapi persentasenya di tentukan sekolah. Misal UN 50%, Ujian Sekolah (US) 50%. Dengan persentase seperti itu, berarti berimbang antara point US dan UN. Porsi masing-masing bisa diubah oleh sekolah. 

Namun tahun 2017 lalu,  ada perbincangan kepala sekolah dengan guru (identitas dirahasiakan), sekolah yang bagus akan berani ambil porsi penentu kelulusan adalah UN. Misal dengan persentase UN 60%, US 40%. Sekolah yang kemampuan siswa biasa-biasa saja, atau bahkan luar biasa di bawah standar, akan membuat persentase kebalikannya, dimana porsi US lebih besar dibanding UN.

UN merupakan ujian nasional yang langsung terpusat se Indonesia, beda dengan US yang hanya bersifat regional. Sehingga UN lebih ketat apabila bermain kongkalikong alias bermain curang. Kalau UN bisa bagus berarti tingkat kemampuan siswa juga lumayan laahhh.

UN yang sekarang lebih dimanfaatkan sebagai bentuk evaluasi nasional terhadap pendidikan di Indonesia. Makin maju, mundur, atau jalan ditempat. Sekolah sebagai penyelenggara UN juga bisa menggunakannya untuk pemetaan kualitas sekolah dari tahun ke tahun sehingga bisa mencari formula untui memajukan sekolah lewat kompetensi siswa.

Sekali lagi mari ucapkan, selamat tinggal UN yang menyeramkan.

Adanya kebijakan seperti ini patut diapresiasi dengan tindakan positif. Jangan main curang lagi demi kelulusan. Jangan seperti waktu UN lsgi yang guru dan siswa pada sibuk cari trik meningkatkan nilai dengan cara kotor, bahkan ada guru yang sibuk mencari jawaban dan disebarkan ke siswa atau bahkan jual beli kunci jawaban. 

Aaahhh sudahlah, sekarang waktunya revolusi mental. Kebijakan sudah longgar, waktunya mengakui kemampuan siswa anda. Yang tidak mampu bagaimana? Ya diperbaiki mulai awal dia masuk. Kalau gak bisa? Kan ada kriteria kenaikan kelas. Kalau, kalau, dan kalau....harus dihapus pelan-pelan. Gak bakal ada kemajuan jika kata "kalau" terus muncul.
Share

0 Response to "Selamat Tinggal UN yang menyeramkan"

Post a Comment

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel