Memaknai Hari Pendidikan Nasional dan Kelulusan

Hari pendidikan nasional jatuh pada tanggal 2 Mei. Kebetulan di tahun 2018 ini berdekatan dengan pengumuman kelulusana SMA/ MA/ SMK. Pagi ini kebetulan saya lihat berita di TV. Ada berita tentang siswa yang melakukan aksi corat-coret seragam dan konvoi motor di jalan raya tanpa helm. 

Sebenarnya aksi tersebut sudah lama terjadi di setiap kelulusan dari dulu jaman saya sekolah SMP SMA.  Saat ini sudah ada larangan dari pemerintah. Tapi ya begitu, tetap saja di langgar. Sepertinya, melanggar peraturan menjadi hobi bagi mereka.
Hari pendidikan nasional
Ilustrasi hari pendidikan nasional: malahayati.ac.id

Lewat oret-oretan saya ini, sebenarnya hanya ingin mengungkapkan bagaimana seharusnya sikap pelajar dalam memaknai hari pendidikan nasional (hardiknas). Terlebih berdekatan dengan momen pengumuman kelulusan.

Karena tulisan saya ini bukan tulisan kajian yang mengacu pada berbagai sumber, baik buku, jurnal atau internet, jadi ya hanya bersifat subjektivitas saja. Sebelum membaca tulisan saya, mohon dimaafkan apabila ada ungkapan yang bertolak belakang dengan kajian teori dalam berbagai sumber akurat.

Menurut saya, pelajar di masa seperti ini sangat sedikit yang bisa menjiwai hardiknas. Memang kalau ditanya teori tentang sejarah hardiknas, mereka paham. Kalaupun lupa bisa langsung tanya ke mbah google. Namun jika ditanya tentang penerapan, saya rasa masih sangat minim.

Memaknai hari pendidikan nasional tidak cukup hanya dengan melakukan peringatan simbolis, upacara, atau apalah-apalah yang hanya sekedar memperingati dan meramaikan. Namun perlu adanya penjiwaan terhadap sejarah pendidikan. Dari sejarah tersebut, pelajar seharusnya mengambil pelajaran dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal membangun Indonesia melalui prestasi.

Naahhh, kembali lagi pada aksi corat-coret seragam. Apa mereka tumpul dalam berpikir hingga mereka tidak peka dengan kondisi sekeliling. Banyak saudara dan adik² mereka yang berada di tempat lain kesulitan soal biaya, bahkan masih ada yang sekolah tanpa seragam seperti mereka. Lebih baik aksi corat-coret diganti dengan aksi berbagi. Copor seragam, dan sumbangkan untuk mereka yang membutuhkan. 

Aksi kedua yang jelas salah adalah konvoi menggunakan motor dan tidak menggunakan helm. Sebenarnya saya pribadi merasa tidak bisa memahami bagaimana pikiran pelajar yang melakukan aksi yang sudah jelas salah karena bersifat melanggar, membahayakan diri sendiri dan orang lain. Memang si, mereka tidak akan di penjara atau denda meski tanpa helm. Karena mereka melakukannya dengan banyak pelajar.

Hmmm... Melakukan kegiatan kok tidak bermanfaat. Malah mengganggu pengguna jalan lain. Menyebabkan kemacetan. Oohh, kelakuan pelajar yang tak terpelajar.
Share

0 Response to "Memaknai Hari Pendidikan Nasional dan Kelulusan"

Post a Comment

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel