Dari Mana Agamaku?

Seorang wanita muda telah lama menunggu jawab di sebuah masjid. Dengan pakaian serba putih menutup seluruh auratnya, dia seraya menunduk tunduk pada kuasaNya. Seolah tanpa daya, namun tetap penuh upaya mengharap ridhoNya. Dalam lantunan do'a, hanya mengharap jawaban atas pertanyaannya pada sang Esa, "dari mana agamaku?".
Dari mana agamaku
Rupanya, Tuhan tak kunjung menjawab tanya. Hari demi hari berlalu. Berganti minggu demi minggu. Berganti hingga menuju tahun pertama dia menunggu jawab atas pertanyaannya yang nyeleneh. Wanita lain yang seagama, tak ada satupun yang bertanya asal-usul agama. Mereka lahir sudah mendapat title agama yang disandang hingga sekarang.

Aaahh... Apa untungnya menanyakan jati diri agama. Agama sudah menjadi label ketika lahir. Apa agama orangtua, itu juga agama anak. Identitas agama seolah mudah untuk didapatkan. Tanpa perlu pencarian jati diri yang panjang untuk mendapatkan agama. Apalagi tinggal di negara dengan agama mayoritas, tentu akan banyak yang terlahir dengan agama mayoritas tersebut. 

Dengan agama yang dibawa sejak lahir, wanita tersebut seolah sedih dengan agama yang sudah melekat dalam dirinya sejak lahir. "Allah, dari mana agamaku? Apa bukti nyata bahwa agama yang melekat dalam diriku adalah agama terbaik? Apakah agama ini harus dan harus aku pilih?", ucap wanita tersebut sambil menangis di atas hamparan sajadah berwarna putih.

Isak tangis membuat air mata berderai di pipi. Mata pun sembab. Kondisi di sekitarnya yang mayoritas beragama sama dengannya, tidak membuat dia lebih nyaman. Justru sebaliknya. Apa yang dia pelajari dalam agama, sangat sedikit yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat sekitar. Kondisi yang berkebalikan dengan ajaran tersebut, membuat dia lelah dan membawa keraguan dengan agamanya.

Sambil memperhatikan kerumunan tetangga yang tiap pagi berghibah membicarakan keburukan orang lain, membuat dia semakin penasaran tentang asal muasal bagaimana tetangga tersebut menyandang agama sepertinya. Apakah bawaan lahir seperti dirinya, ataukah mereka mendapatkan agama karena sebuah pencarian panjang?

Hati semakin bergejolak. Malaikat hitam dan putih semakin kuat berperang dalam benaknya. Ingin hati keluar dari agama tersebut. Bahkan mencoba benar-benar keluar. Tapi....
Share

1 Response to "Dari Mana Agamaku?"

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel