Jadi Guru Swasta Aja Dipecat: Ya Weslah, Aku Rapopo!

Setelah resign dari tempat ngajar sebelumnya yang sempat saya tulis (cek disini), saya terpaksa ngajar lagi dekat rumah. Cuma tiga hari per minggunya. Terpaksa karena permintaan istri. Di madrasah tsanawiyah swasta lagi. Meski dengan gaji yang seperti saya katakan dalam tulisan nasib guru. Hampir setahun berlalu, ternyata berujung dengan tragedi ancaman pemecatan dari pihak yayasan. Ancaman yang pahit tapi menyenangkan bagi saya. Pahitnya karena disampaikan di grup WA. Senangnya karena memang sudah ada rencana mau resign karena kurang cocok dengan hati nurani. Aahh beginilah, jadi guru swasta aja dipecat.

Berawal dari obrolan teman ngajar yang ditagih setor nilai UAM atau UAMBN ya. Lupa. Pokoknya tentang nilai. Waktu itu saya jawab: "diawur saja Pak nilainya. Anak-anak tidak butuh nilai, hanya butuh ijazah". Ternyata ada pihak yayasan yang mengatakan bahwa guru tidak semestinya berkata ngawur. Kemudian saya jelaskan bahwa " ngawur" maksud saya adalah tidak perlu dikoreksi serius. Karena nilai jelas tidak mencapai target dan harus direkayasa ulang. Dari pada kerja 2 kali, pikir saya ya dikoreksi tapi jangan terlalu detail, yang penting semua lulus sesuai target sekolah dan target pendidikan. Toh waktu itu memang siswa-siswanya masya Allah, sebagian besar tidak peduli dengan sekolah. Bagi mereka yang penting lulus.

Ternyata penjelasan saya tidak bermakna. Ternyata ada dendam di antara kami. Haahaa... Pihak yayasan menjelaskan dengan nada marah ala WA, bahwa saya sering absen tidak masuk. Jadi saya masuk di catatan mereka. Bahkan berujung dengan ancaman bahwa saya akan dipecat. Aslinya saya paham bahwa yang dituju bukan saya saja melainkan guru senior lainnya yang juga sering ijin tidak masuk. Tapi karena saya dijadikan kambing hitam, ya sudahlah dalam detik itu juga saya mengundurkan diri. Mungkin tidak etis juga mengundurkan diri dengan cara tersebut. Masalahnya penyampaian teguran juga tidak etis.
Jadi guru swasta aja dipecat ya weslah aku rapopo
Ilustrasi ancaman pemecatan
Memang saya akui saya pernah ijin. Jam saya yang hanya tiga hari dalam seminggu pada semester 1, dan saya kurangi 2 hari dalam seminggu di semester 2, membuat saya yang ijin sehari saja sangat kelihatan. Apalagi kalau ada jam kosong saya pulang. Kalau pagi biasanya saya pulang sarapan. Mau beli di sekitar MTs tersebut, tidak mungkin. Karena gaji sebulan hanya sekitar Rp 300.000,00. Kadang juga saya sambi antar barang dagangan waktu ada jam kosong. Mungkin itu alasan kenapa saya masuk dalam list wanted yang bakal ditegur. Apalagi saya yang paling muda.

Maunya si fokus standby dikantor meski jam kosong. Tapi pihak yayasan yang juga ngajar sekantor, termasuk yang negur saya juga sering tidak masuk waktu ada jam. Saya yang jurusan IPA dikasih jam ngajar seni budaya sudah saya upayakan. Eh masih kurang. Mau gimana lagi. Namanya juga numpang di yayasan orang lain. Disuruh apa ya mesti mau. Sekalipun yang nyuruh lebih sering melanggar. Seperti kata pepatah orang jawa: wong ra iso ndelok jitoke dewe. Orang tidak bisa melihat diri sendiri.

Kejadian tersebut menjadi pelajaran bagi saya. Jadi guru kok ribet ya. Sampai-sampai jadi guru swasta aja dipecat. Mungkin bukan jalan saya jadi guru. Ya wes lah aku rapopo!

Kejadian demi kejadian di lembaga pendidikan yang saya alami, mulai pemotongan tunjangan dari pemerintah untuk guru swasta yang besarnya 250.000/ bulan tidak bisa cair penuh padahal tanda tangannya penuh, orientasi pendidikan yang hanya condong ke teori belaka, gaji guru yang kurang manusiawi dan minimnya perhatian pihak terkait pendidikan, membuat saya berpikir lebih jauh dan mulai paham mengapa pendidikan tak kunjung membaik dari segi kualitas. 

Mulai hari itu, ketika saya sedikit paham, semangat mengajar benar-benar hilang. Tidak ada gairah lagi terjun dalam dunia pendidikan. Namun harapan saya, semoga ini awal yang baik. Syukur-syukur kalau suatu saat bisa jadi pengembang pendidikan yang tidak seperti apa yang saya dapatkan.

Lewat tulisan saya ini, mungkin ada yang tersinggung dan kontra dengan pendapat saya. Saya mohon maaf. Sebagai orang kecil, saya menulis seperti ini juga punya harapan. Siapa tahu dibaca oleh presiden atau menteri. Barangkali beliau belum tahu kejadian di lapangan tentang pendidikan dasar dan menengah yang aslinya masih kacau. Sekalipun kurikulum digodok sampai matang. Kenyataannya, para pelaksana pendidikan, dalam hal ini guru perlu perhatian lebih.
Share

0 Response to "Jadi Guru Swasta Aja Dipecat: Ya Weslah, Aku Rapopo!"

Post a Comment

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel