Pak Menteri: Buat Kurikulum Jangan Kaku, Bikin Galau Tau!

Gila dah bagusnya kurikulum saat ini yang disebut kurikulum 2013/ k13/kurikulum nasional. Lengkap. Target juga tingkat berpikir tinggi. Bahkan untuk setingkat SD saja buku bacaannya yang disebut tematik, sangat-sangat bikin siswa mendelik dan berpikir tingkat tinggi. Saking tingginya, malah kadang gak sampai-sampai apa yang dipikirkan. Bahkan bikin pusing, malas. Kurikulum dengan desain yang bagus tersebut, rupanya masih kaku. Bikin semua galau. Guru, siswa, bahkan orang tua siswa.

Kaku bagaimana ya maksudnya? Terlalu serius dan ada unsur pemaksaan agar siswa belajar hal-hal rumit. Apalagi buat anak SD, kurikulum yang kaku, menurut saya kurang cocok. Tahu sendiri, bagaimana kebiasaan anak-anak usia SD. Mereka lebih suka bermain. Nah, harusnya pengemasan kurikulum menyesuaikan hal tersebut. Kurikulum bermain, tapi isinya belajar. 
Materi juga terlalu banyak untuk dibahas. Bukan hanya SD, tapi setingkat SMP dan SMA juga sama. Materi seabrek. Meski sudah disusun ada kegiatan praktikum, pengamatan, observasi atau sejenisnya, tapi gak mungkin cukup untuk melakukannya.
Dan kesan belajarnya benar-benar belajar. Lagi-lagi unsur kemasan bermain/ refreshing sangat minim. Meski sudah usia SMA, masih perlu yang namanya refreshing.

Entahlah, apa sebenarnya kemauan kurikulum ini. Bermanfaat atau tidak untuk kehidupan kelak, tetap saja dipaksakan untuk dipelajari, dan dimasukkan sebagai tolok ukur kemampuan siswa.

Kurikulum kaku memaksa menciptakan suasana belajar yang monoton. Sumber belajar masih didominasi bacaan. Sampai sejauh ini masih bergantung pada buku. Buku cetak usang dimakan teknologi, ganti kemasan buku elektronik. Tetap saja buku.

Apalagi?

Bahkan untuk belajar ilmu sosial pun, siswa tidak perlu bersosialisasi. Cukup baca buku saja. Hukum permintaan, penawaran: tanpa harus melakukan. Cukup tau definisi dari buku. Di ingat. Ketika ada pertanyaan di soal, tinggal menyalin ingatan. Bagaimana bisa mencapai tingkat berpikir tinggi kalau hanya dilatih dengan cara belajar yang tergantung pada teks. 

Hukum permintaan penawaran: siswa perlu dilatih menganalisa langsung di toko/ pasar tentang harga produk. Cek beberapa kali. Ada gak naik turunnya. Kalau ada kenaikan/penurunan harga, apa kaitannya dengan permintaan penawaran.

Lagi. Belajar Ilmu Pengetahuan Alam: tidak perlu alam sebenarnya. Cukup buku saja sebagai alam. Buku yang sangat sempit masih dianggap seperti dewa pengetahuan. Belajar ekosistem sawah, cukup baca dan dibayangkan. Siswa tidak perlu tahu sawah sebenarnya.

Alasan demi alasan akan diungkapkan guru, mengapa tidak praktik ke ekosistem beneran. Jawabnya: materi masih banyak. Tidak cukup waktunya.

Masih banyak cerita pelajaran lain. Kasihan siswa, pak menteri. Jangan ajarkan mereka menjadi katak dalam tempurung. Jangan hanya sibuk utak-atik dokumen kurikulum yang kaku. Sibuklah mengamati langsung, buat terobosan terkait belajar yang menyenangkan. Mungkin ini sudah menjadi budaya turun-menurun tentang cara balajar di sekolah yang cenderung monoton. Dalam kelas, bahas buku. Tergantung dari buku. Ulangan dari buku. Buku... Ooohhh... Bukuuu.
Share

0 Response to "Pak Menteri: Buat Kurikulum Jangan Kaku, Bikin Galau Tau!"

Post a Comment

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel