Saat-saat di puncak semangat S2

S2. Mungkin jadi dambaan tiap orang. Bisa magister gelarnya. Disegani orang. Kelihatan keren. Mudah cari pekerjaan yang berkelas, dapat gaji lumayan.

Ilustrasi kuliah: skpm.ipb.ac.id

Begitu juga saya. Pingin. Pake banget. Tapi bukan itu alasannya. Bukan pingin disegani karena gelar.

Saya ingin ambil magister agribisnis. Bukan seperti S1 dulu yang ambil jurusan pendidikan biologi. Sekarang berbeda haluan.

Entah lah. Lagi bete sama yg namanya jurusan pendidikan.

Apalagi udah bukan pengagum kerjaan yang namanya guru lagi. Bukan pengabdi di sekolah lagi. Akibat pensiun dini. Bisa juga disebut mempensiunkan diri sendiri.

Akibat kesengsem wirausaha. Jual sayur organik. Meski pernah ada masa kelam tentang itu. Uang ludes di bawa rekan. Aah ... itu masa lalu.

Sekarang lebih maju kok. Ya Alhamdulillah masih ada rejeki buat makan sehari-hari. Ditambah bisa bayar kuliah S2. Meskipun kadang tertatih-tatih.

Tapi saat itu bener-bener bikin semangat daftar S2. Dengan harapan kecil: ingin dapat relasi ngembangkan bisnis sayur organik. Dan dapat pembinaan dari kampus plus dosennya.

Mulai masuk semester pertama bulan Juli 2018. Seperti biasa, layaknya maba lainnya. Dapat almamater: foto pake almamater untuk ditempel di akun siakad.

Alangkah senang hatiku saat itu. Bisa masuk universitas swasta di kota Malang yang sudah punya peringkat kelas nasional. Bahkan bersaing dengan universitas negeri.

Kampus merah putih. Bangunan dominasi putih, almamaternya merah. Banyak pasukan berjilbab di sana karena membawa identitas islam. Ditambah arsitek bangunannya yang naik turun bak roller coaster, menambah semangat untuk melewati masa-masa kuliah.

Ternyata diterima beneran lho.

Melalui tahap tes yang serba formalitas. Tidak ada chemistri deg-degan sama sekali layaknya tes.

Akan ada semacam orientasi/ pengenalan. Pasti asyik banyak kenalan. Anggapan awal tersebut rupanya mudah beralih. Saya malas mengikuti kegiatan orientasi. Ditambah waktu itu bersamaan dengan anak saya opname. Akhirnya tidak ikut.

Setelah orientasi, memasuki masa kuliah. Di awal masuk, bertemu teman-teman sekelas di grup WA yang dibuat oleh dosen PA (Pendamping akademik).

Kemudian ada pengumuman jadwal kuliah. Hari pertama masuk kuliah ada 4 mahasiswa. Sebenarnya 5. Tapi yang satu tidak masuk. Dari 4 mahasiswa tersebut, yang dua fresh graduate. Yang dua lagi, termasuk saya adalah golongan tua yang sudah berkeluarga. Beranak pula.

Satu semester terlalui. Ternyata semangat berbalik: rasa malas yang super duper. Karena tujuan awal tidak tercapai. Akibatnya sering tidak masuk kuliah. Entah laah bagaimana kelanjutannya kelak.


Share

0 Response to "Saat-saat di puncak semangat S2"

Post a Comment

Mulutmu harimaumu. Oleh karena itu jaga komentarmu 😉

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel